Senin, 26 November 2012

Analisis Jurnal Penelitian Ilmiah dengan Tema Studi Kelayakan Bisnis 3

Nama                           : Muzdalifah
Npm                            : 10203739
Jurusan                        : Manajemen
Judul                            : Analisa Investasi Usaha Pada Proyek Wartel Rania

Penerbit                       : Universitas Gunadarma 2006

Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya suatu usaha adalah sama yaitu untuk memperoleh laba seoptimal mungkin dari usaha yang dijalankannya agar dapat dikembangkan dan dipertahankan kelangsungan hidup usaha tersebut.
            Kebutuhan manusia akan informasi pada era globalisasi sangat dominan atau sangat diperlukan, melakukan ataupun mengenbangkan kegiatan yang dilakukan sehari-hari, oleh karena itu dibutuhkan suatu informasi yang memiliki nilai dan kualitas yangn dapat menunjang segala aktivitas tersebut.
            Berbagai macam sumber informasi yang dapat digunakan untuk memperoleh informasi diantaranya adalah media cetak dan elektronik. Untuk elektronik khususnya dunia telekomunikasi yang dapat menerima informasi dari teman, keluarga maupun dari seluruh dunia.
            Telekomunikasi adalah salah satu contoh usaha yang banyak didirikan khususnya dilingkungan kampus, terminal, stasiun dan mall – mall. Didalam keadaan perekonomian sekarang ini, ada juga cabang – cabang wartel yang dibuka oleh pemiliknya. Alasannya mereka membuka cabang wartel baru yaitu untuk memperluas usaha, meningkatkan keuangan, unutk menggunakan uang simpanan sebagai modal, serta membantu pemakai wartel dalam berkomunikasi dan mendapatkan informasi yang cepat.
            Dalam membuka cabang baru ini diperlukan modal yang cukup besar. Pemilik dapat memakai modal sendiri, meminjam dari bank atau bisa juga pemilik mencari investor untuk menanamkan modalnya. Investasi ini bisa saja dapat dikembalikan kepada pemiliknya dengan syarat yang telah disepakati oleh kedua pihak dengan membagi keuntungan antara pemilik usaha dan investor atau bisa disebut juga sistem bagi hasil.
           
            Sebelum menanamkan modalnya biasanya para investor mencari tahu apakah usaha yang mereka biayai dapat mengahasilkan keuntungan atau tidak, dengan melakukan usaha uji kelayakan investasi. Dalam melakukan uji kelayakan investasi ini, perlu melihat dari beberapa aspek, seperti aspek pemasaran,aspek hukum, keuangan dan teknik. Salah satu cara yang digunakan untuk melihat suatu usaha dalam aspek keuangan adalah bagaimana keadaan aliran kas (cashflow), NPV, PP, IRR, dan PI. Berdasarkan masalah diatas maka penulis ingin mengambil judul “Analisa Investasi Usaha Pada Proyek Wartel Rania.”

Rumusan dan Batasan Masalah
perumusan masalah dalam penulisan ini adalah seberapa besar manfaat studi kelayakan usaha pada investasi wartel. Penulis membatasi ruang lingkup masalah yaitu “Analisa Investasi Usaha Pada Proyek Wartel Rania”, menggunakan empat metode analisa keuangan ( Payback Period, NPV, IRR, dan PI ) data yang digunakan adalah aliran kas tahun 2006-2007.

Tujuan penelitian
Didalam melakukan penelitian ini penulis mempunyai tujuan sebagai berikut, yaitu :
  1. Mengetahui usulan investasi uasah pada Wartel Rania apakah diterima atau ditolak.
  2. Mengetahui besarnya Payback Period, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Profitabilitas Indeks (PI).

Metode Penelitian
Dalam penulisan ilmiah ini, penulis menganalisis data dan melakukan penelitian dgn metode penelitian dibawah ini:

- Objek Penelitian
Objek penulisan adalah pengembangan usaha yang akan dilakukan pada “Wartel Rania” yang beralamat di Jl. Raden Saleh II Jakarta Pusat.

- Data atau Variabel yang digunakan
Data yang digunakan penulis dalam penulisan ilmiah ini adalah :
  1. Data Primer
Penulis melakukan studi lapangan dan wawancara langsung kepada pemilik dan karyawan Wartel Rania.

  1. Data Sekunder
Laporan aliran kas 2006.

- Metode Pengumpulan Data
a)      Studi lapangan ( Field Research )
Suatu metode penelititan yang dilakukan dengan cara mendatangi langsung objek penelitian. Dalam hal ini penulis wawancara langsung dengan pegawai dan pemilik wartel Rania.

b)      Studi Pustaka ( Library Research )
Dalam hal ini penulis mengumpulkan data yang telah terkumpul dengan referensi buku yang mengacu pada bidang yang berkaitan dengan studi kelayakan usaha.

Alat analisis yang digunakan

Metode Payback Period
Payback period adalah jumlah tahun yang dibutuhkan agar pengembalian-pengembalian yang diterima menyamai jumlah yang diinvestasikan.
Sedangkan menurut Arthur J. Keown “Payback period adalah suatu periode yang diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan procceds atau aktiva kas (net cash flows)”. Dengan demikian Payback period dari suatu investasi menggambarkan panjangnya waktu yang diperlukan akan dana yang tertanam pada suatu investasi dapat diperoleh seluruhnya.
                              
            Payback period  = 

Jadi kriteria penilaian pada metode Payback period ini adalah :
o       Jika Payback periodnya < waktu maksimum, maka usulan proyek tersebut dapat diterima.
o       Jika Payback periodnya  >  waktu maksimum, maka usulan proyek tersebut ditolak.

Metode Net Present Value (NPV)
Metode NPV adalah metode yang memperhatikan “time value of money”, maka procceds yang digunakan dalam menghitung NPV adalah procceds atau “cash flow” yang didiskontokan atas dasar biaya modal (cash of capital) “rate of return” yang diinginkan.

            NPV =

Keterangan :
      At  = cash flow pada period t
      k    = discount rate
      I     = PV dari outlay
      n    = perkiraan umur proyek

Kriteria penilaian NPV adalah :
a.       Jika NPV  >  0, maka investasi diterima.
b.      Jika NPV  <  0, maka investasi ditolak.

IRR (Internal Rate of Return)
Internal Rate of Return merupakan metode penilaian usul investasi yang menggunakan “discount cash flows”. IRR adalah tingkat bunga yang akan diterima (PV Future Procceds) sama dengan jumlah nilai sekarang dari pengeluaran modal (PV Capital Outlays). Pada dasarnya IRR harus dicari dengan cara “trial and error” dengan metode coba-coba.
Rumusan dari Internal Rate of Return dengan metode interpolasi adalah sebagai berikut :
                      
            IRR = 

Keterangan :
      rk             = tingkat bunga kecil
      rb             = tingkat bunga besar
      NPV        = net present value
      TPV         = total present value
Metode ini diterapkan dengan prosedur :
1)      Mencari nilai bersih dari investasi.
2)      Apabila nilai sekarang bersih positif, maka tingkat hasil dinaikan sampai menunjukan nilai sekarang bersih negative. Atau sebaliknya apabila nilai sekarang negative, maka dicari tingkat hasil sampai nilai sekarang bersih posirtif.

Kriteria penilaian IRR adalah :
a.       Jika IRR  >  dari suku bunga yang telah ditetapkan, maka investasi diterima.
b.      Jika IRR  <  dari suku bunga yang telah ditetapkan, maka investasi ditolak.

Profitabilitas Indeks (PI)
Profitabilitas Indeks adalah menghitung antara nilai sekarang dari penerimaan kas bersih di masa yang akan datang dengan nilai sekarang investasi.

            PI =

Kriteria untuk Profitabilitas Indeks :
a.       Jika PI  >  1, maka investasi diterima.
b.      Jika PI  <  1, maka investasi ditolak.

BAB IV
PEMBAHASAN


4.1              Data dan Profile Objek Penelitian
            Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, masyarakat mulai tertarik dengan yang namanya telekomunikasi. Kesadaran masyarakat mengenai komunukasi dapat memicu orang untuk mendirikan usaha wartel atau sering disebut warung telekomunikasi. Wartel adalah alat untuk berkomunikasi jarak jauh untuk mendapatkan informasi yang mungkin sangat berguna.
            Dalam hal ini penulis memilih tempat sebagai bahan penelitian yaitu uasa wartel Rania yang berada di Jl.Raden saleh II Jakarta Pusat 10330. Pemilik wartel ini adalah Umi Uun.
            Wartel ini berdiri sejak tahun 2000, wartel ini mempunyai fasilitas yaitu 4 unit telepon, 1 printer, I komputer. Untuk menambah layanan dalam fasilitas komunikasi, wartel Rania berniat menambah 4 unit telepon.
            Dalam menghadapi perekonomian ini dalam menjalankan usaha, pemilik ingin memperluas usahanya dengan menambah bangunan, menambah investasi yang dimiliki, dan menambah peralatan yang diperlukan untuk memperluas usaha.

4.1.1        Struktur Organisasi
            Wartel Rania mempuyai struktur organisasi sebagai berikut :
1.      Pemilik
      Adalah pendiri, dan seseorang yang sangat berperan dalam kemajuan wartel Rania ini.
2.      Operator
      Adalah orang yang tugasnya melayani pelanggan yang sebaik-baiknya jika pelanggan ingin membayar.

         
Gambar 4.1
Struktur Organisasi Wartel Rania
               
                Sumber : Wartel Rania 2006

4.1.2        Bentuk Organisasi
            Bentuk organisasi di dalam wartel adalah organisasi lini, yaitu tidak adanya batasan  antara atasan dan bawahan.
            Organisasi lini atau garis adalah bentuk organisasi yang di dalamnya terdapat garis wewenang yang berhubungan langsung secara vertikal antara atasan dengan bawahan.
            Ciri-ciri :
1)      Jumlah karyawannya sedikit.
2)      Selain menejer, menejer di bawahnya hanya pelaksana.
3)      Sarana dan alatnya terbatas.
4)      Hubungan antara atasan dan bawahan bersifat langsung.
5)      Bentuk lini pada perusahaan perorangan, pemilik perusahaan adalah Top Manajer.

Sedangkan kebaikan dan keburukan adalah sebagai berikut
Kebaikannya :
1)      Atasan dan bawahan di hubungkan dengan garis komando.
2)      Rasa solidaritas dan spontanitas seluruh anggota organisasi besar.
3)      Proses decision making berjalan cepat.
4)      Disiplin dan loyaritas tinggi.
5)      Rasa saling pengertian antar anggota tinggi.

Keburukannya :
1)      Tendensi gaya kepemimpinan oktokratis.
2)      Pengembangan kreativitas karyawan terhambat.
3)      Tujuan Top Manajer sering tidak bisa di bedakan dengan tujuan organisasi.
4)      Karyawan tergantung pada satu orang dalam organisasi.

4.2              Hasil Penelitian dan Analisis
            Seiring dengan perkembangan teknologi yang pesat, masyararat banyak menggunakan  telepon sebagai alat komunikasi jarak jauh.
            Meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai telepon dapat memacu orang untuk mendirikan usaha wartel, karena telepon merupakan alat komunikasi jarak jauh yang efisien dan efektif. Disini penulis ingin menjelaskan bagaimana perkembangan uasaha wartel Rania pada saat ini, dengan mempunyai fasilitas 4 KBU,AC, local, Interlokal, HP.
            Wartel Rania merupakan wartel yang banyak pengunjungnya dari semua kalangan, karena tempatnya dekat dengan perumahan Raden Saleh terutama lingkungan kost – kostan.  Setelah pemilik melihat keadaan tersebut, maka pemilik wartel merencanakan untuk memperluas usahanya dengan membuka cabang dari wartel Rania. Untuk menyesuaikan tujuan dan visi usaha wartel Rania, maka perlu diperhatikan beberapa hal yang menunjang berdirinya serta berjalannya usaha wartel ini untuk itu perlu kita pelajari atau dimengerti fartor-faktor di bawah ini :

1)      Pasar Potensial
Dilihat dari situasi tempat dimana perluasan atau pengembangan wartel Rania akan didirikan wartel ini mempunyai tempat dekat dengan kost-kostan, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
2)      Lokasi
Wartel yang akan diperluas adalah wartel Rania yaitu di Jl.Raden Saleh II Jakarta Pusat.
3)      Pesaing
Suatu usaha jasa seperti wartel ini merupakan usaha yang dapat dikatakan banyak dapat ditemui khususnya didaerah terminal,stasiun,mall-mall, karena usaha jasa dalam bidang ini sangat membantu masyarakat akan kebutuhan informasi dan komunikasi. Penulis melihat terdapat jenis usaha wartel lain yang berhadapan dengan wartel Rania. Oleh karena itu menyimpulkan bahwa persaingan yang akan terjadi tidak akan terlalu tinggi.
4)        Sarana
Sarana yang  akan dimiliki untuk wartel Rania yang akan diperluas adalah sebagai berikut :
·  Luas bangunan 3 x 4 m
·  1 (buah) AC
·  4 kursi
·  4 KBU
·  Pesawat telepon
·  1 lemari Es

4.3        Analisis Investasi
            Berdasarkan informasi data yang telah dilakukan, disarankan agar rencana untuk memperluas usaha wartel ini, memerlukan beberapa peralatan yang menunjang pengembangan tersebut. Berikut ini adalah data investasi yang diperlukan untuk memeperluas Wartel Rania:

Tabel 4.1
INVESTASI WARTEL RANIA

NO
Uraian
Jml Barang
Harga Unit
Total  (Rp)
Dep/thn
Nilai sisa
1
Izin
-
-
      200.000
-    
0
2
Papan nama& Spanduk
-
-
    300.000
-
0
3
Pembuatan kamar KBU
4
  500.000
 2.000.000
    500.000/3
   500.000
4
Pesawat telepon
4
  100.000
      400.000
    200.000/2
0
5
Kursi
4
    30.000
      120.000
      40.000/3
0
6
Pearangkat Wartel
4
6.000.000
 24.000.000
12.000.000/2
0
7
Meja kasir
1
   600.000
      600.000
    300.000/2
0
8
Kursi kasir
1
     50.000
        50.000
     25.000/2
0
9
Komputer
1
3.500.000
   3.500.000
 2.000.000/1
1.500.000
10
Printer
1
   500.000
      500.000
    165.000/3
     50000
11
Jam
1
     45.000
        45.000
     -
0
12
Stabilizier
1
1.500.000
   1.500.000
   600.000/2
   300000

TOTAL


 33.215.000
 15.830.000


            Dengan investasi Rp. 33.215.000,- dapat diharapkan bahwa, wartel rania ini akan berjalan dengan baik, karena modal awal ini dapat dipastikan kembali dalam jangka waktu singkat.

Aliran Kas Bersih
Wartel buka dalam 1 hari 13 jam, pemakaian efektif 2,75 jam dari buka
LOKAL:
2,75 jam x 70 %  = 1,9 jam
                            = 115 menit
                            = 1 menit = 1 pulsa
Pulsa wartel  = Tarif Rp 275 / pulsa
                     = Total pulsa lokal = 115 pulsa
                     = Pendapatan lokal = 115 x Rp 275 = 31.625 (KBU)
Total pendapatan dari 4 KBU = 4 x Rp 31.625 = Rp 126.500

HP dan Interlokal :
2,75 jam x 30 % = 0.825 jam
                           = 50 menit
HP / menit          = Rp 1000 x 50 menit = 50.000 (KBU)
4 KBU = 4 x Rp 50.000 = Rp 200.000
Jadi penghasilan seluruhnya dari 4 KBU :
         1 hari                = Rp 126.500 + Rp 200.000 = Rp 326.500
         1 bulan             = Rp 326.500 x 30                 = Rp  9.795.000
         1 tahun             = Rp 9.795.000 x 12              = Rp 117.540.000

Biaya telepon :
         Perbandingan pulsa telepon wartel dan telkom 1 : 2
         Local 115 / 2 =  57 pulsa
         Rp 275 x 57  = Rp 15.675
         HP dan Interlokal
         50 / 2 = 25 pulsa
         Rp 1000 x 25 = Rp 25.000
Jadi, Rp 15.675 + Rp 25.000 = Rp 40.675
4 KBU = 4 x Rp 40.675 = Rp 162.700
         Dari pendapatan telkom dan pengusaha dengan bagi hasil 80 % : 20 %. 80 % untuk telkom dan 20 % untuk pengusaha.
         Jadi biaya telepon ke telkom                 = Rp 162.700 x 80 %
         1 hari                = Rp 130.160
         1 bulan             = Rp 130.160 x 30       = Rp 3.904.800
         1 tahun             = Rp 3.904.800 x 12    = Rp 46.857.600

ALIRAN KAS MASUK DAN KAS KELUAR :
      Taksiran pendapatan ( cash flow )            Rp 117.540.000
      Taksira biaya operasi :
            Bi. HP dan lokal ke telkom                            Rp 46.857.600
            Bi. Gaji 2 karyawan
            @ Rp 400.000 = Rp 800.000 x 12               Rp   9.600.000
            Bi. Sewa Tempat                                           Rp 10.000.000
            Bi. Listrik Rp 375.000 x 12                           Rp   4.500.000
            Bi. Maintenance Rp 300.000 x 12                 Rp   3.600.000  +
           Total                                                 Rp 74.557.600
            Depresiasi                                                     Rp 15.830.000 -
            Total                                                 Rp  58.727.600
      EBIT                                                       Rp  58.812.400
            PTKP (K/2)                                                  Rp  15.600.000
      EAT                                                                    Rp  43.212.400
           
      Taksiran Penghasilan (total cash flow)      Rp  43.212.400

Tingkat Kelayakan Usaha
            Untuk mengetahui apakah dengan modal Rp 33.215.000 . Investasi dapat mengalami keuntungan atau kerugian ataupun usaha ini dapat diperluas. Untuk dapat mengetahuinya yaitu dengan cara NPV, PP, IRR, PI.

4.3.1        Payback Period
            PP =
            PP =
            PP =  9,22 ( 9 bulan 6 hari )
            Dalam waktu 9 bulan 6 hari wartel ini dapat mengembalikan investasinya, maka usaha ini layak untuk tetap dilaksanakaan dan diperluas.

4.3.2        Net Present Value (NPV)
            Untuk mencari NPV, penulis menggunakan tingkat suku bunga sebesar 12 %. Maka perhitungannya sebagai berikut :
PV Procceds    = 0,8928 x Rp 43.212.400 = Rp 38.580.030
PV Outlay                                                   = Rp 33.215.000 -                                  
                                                NPV              Rp   5.365.030
Karena NPV diketahui hasilnya positif, maka usaha ini layak untuk diperluas.

4.3.3        Internal Rate of Return (IRR)

Jumlah investasi = Rp 33.215.000
Jumlah Procceds = Rp 43.212.400

            Untuk menghitung IRR, penulis mencoba dengan tingkat suku bunga sebesar 31 % untuk PV dari Proceeds. Dengan menggunakan bantuan dari :
PV Proceeds    = 0,7633 x Rp 43.212.400       = Rp 32.984.024
                                                PV outlay         = Rp 33.215.000   -
                                                NPV2               = Rp    - 230.976
                                                                         31 % - 12 %
            R          = 12 % - Rp 5.365.030
                                                          Rp – 230.976 – Rp 5.365.030

         = 12 % -   Rp 5.365.030 (19)
                           Rp – 5.596.006
         = 15 % -    Rp 101.935.570
                           Rp – 5.596.006
         = 12 % + 18,21 %
                        = 30,21 %

            Dari hasil perhitungan IRR sebesar 30,21 %, berarti usulan investasi perluasan usaha atas wartel Rania dapat diterima karena IRRnya lebih besar dari bunga yang ditetapkan yaitu 12 %.






4.3.4        Profitabilitas Indeks
            PI =
        = 
        =  1,3
            Jadi investasi layak dan dapat diterima  karena nilai Profitability Indeks lebih besar dari 1 (satu).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar